Kamis, 31 Maret 2011

Franchise Apotek: Menguntungkan atau Tidak??

Dunia usaha di segala bidang akan selalu mengalami kemajuan maupun kemunduran. Hal ini tergantung daripada pengelolaan dari pihak pengusahanya. Berbagai macam cara dilakukan para pengusaha agar usaha mereka tetap eksis di dunia ini, baik itu diversifikasi usaha, pelebaran daerah usaha, dsb. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk meningkatkan keuntungan.
Salah satu usaha tersebut ialah dengan menggunakan sistem franchise. Nah, yang akan saya bahas di sini berkaitan dengan franchise apotek yang semakin marak di negeri kita ini.
Seiring dengan tingkat persaingan yang semakin tinggi, muncullah suatu konsep yang disebut dengan sistem apotek jaringan. Franchise apotek bagi saya adalah salah satu bentuk sistem apotek jaringan. So, apakah apotek jaringan itu?
Apotek jaringan ialah suatu sistem jaringan retail di bidang farmasi dimana seluruh sistem manajemen di dalamnya memiliki kesamaan dan saling terikat satu dengan lainnya walaupun tempat usaha tersebut berada di beberapa tempat. Sistem manajemen tersebut antara lain: sistem pembelian barang, sistem pelayanan, sistem pengaturan stock produk, dsb. Dengan adanya sistem ini diharapkan adanya efisiensi dan efektivitas dari seluruh apotek yang terkait sehingga akan meningkatkan keuntungan di kemudian hari.
Bagi para pengusaha yang memiliki modal yang sangat besar, hal tersebut telah lama dilakukan dengan cara membuka cabang-cabang apotek di berbagai daerah. Walaupun demikian, sistem manajemennya tetap berada di satu atap. Sebagai contoh: Apotek Roxy yang dulu memulai apoteknya di daerah roxy, sekarang telah memiliki lebih dari 10 cabang di seluruh daerah Jabotabek, Apotek Kimia Farma yang merupakan salah satu BUMN telah memiliki lebih dari 100 cabang dan tersebar di seluruh Indonesia, dan masih banyak apotek-apotek yang menerapkan konsep apotek jaringan ini.
Kalau demikian, apa keuntungan dengan adanya sistem apotek jaringan ini? Banyak keuntungan yang diperoleh dari sistem ini, diantaranya:
  1. Manajemen menjadi terkontrol dengan baik karena sistem pengawasan terpusat dari satu tempat saja.
  2. Distribusi produk menjadi lebih luas, dimana dengan banyaknya cabang, pembelanjaan produk menjadi meningkat dan tersebar luas. Dengan kuantitas pembelanjaan yang besar, kondisi harga pun menjadi lebih bagus sehingga harga yang ditawarkan ke konsumen pun menjadi kompetitif.
  3. Pelayanan terhadap konsumen pun seragam di berbagai cabang karena memiliki Standar Operasional yang sama.
  4. Terbukanya banyak lowongan kerja.
Walaupun demikian, untuk mencapai kesemuanya itu bukanlah hal yang mudah, perlu proses dan biaya yang tidak murah. Perlu waktu yang tidak singkat, bahkan bisa puluhan tahun untuk mencapai hal tersebut. Nah, bagaimana bagi  kita yang ingin berusaha di bidang ini, tetapi memiliki modal yang tidak terlalu besar. Hal tersebut bisa kita lakukan, tetapi butuh waktu yang sangat lama.
Bagi kita yang ingin berusaha dan ingin cepat berkembang, kita bisa mengikuti yang namanya sistem franchise, dimana kita menanamkan modal kita dan membeli sistem apotek jaringan yang telah ada dengan kompensasi memberikan semacam royalti dari omzet penjualan apotek kita kepada pemilik merk apotek tersebut. Beberapa apotek jaringan telah melakukan hal tersebut, diantaranya ialah Apotek Century, Apotek Guardian, Apotek K-24, Apotek Kimia Farma. Mereka melakukan sistem franchise dengan tujuan agar mereka dapat melebarkan sayap usaha tanpa harus menggelontorkan modal mereka sendiri.
Menurut saya, sistem franchise ini sangat menarik, apalagi bagi yang masih buta di bidang retail farmasi. Mengapa demikian? Sebab kita tidak perlu lagi memusingkan mengenai manajemen apotek kita nantinya, pengendalian stok yang terarah, brand apotek juga sudah dikenal masyarakat sehingga tidak perlu pengeluaran biaya promosi yang besar, dan masih banyak lagi. Walaupun demikian, bagi saya masih ada kelemahan-kelemahan yang saya amati dengan adanya sistem franchise apotek ini, antara lain:
  • Sistem royalti fee berdasarkan omzet penjualan di apotek tersebut. 
Memang ada kompensasi yang harus kita bayarkan yaitu berupa royalti fee karena kita menggunakan brand apotek yang sudah terkenal. Royalti ini berdasarkan omzet penjualan per bulan dari apotek tersebut. Sangat bagus jika lokasi apotek yang kita buka memiliki omzet yang besar, tetapi jika lokasi yang kita buka ternyata tidak sesuai yang kita harapkan dan malah merugi, hal ini akan makin memberatkan kita dengan sendirinya. Modal yang kita tanamkan di usaha tersebut menjadi habis, sedangkan pihak franchisor belum tentu menjamin akan adanya keuntungan yang diharapkan sebelumnya.
  • Harga produk yang seragam belum tentu bisa diterapkan di setiap daerah.
Sistem penentuan harga yang seragam belum tentu dapat diterapkan di setiap daerah. Terkadang hal tersebut bisa menjadi bumerang bagi kita sendiri, apalagi jika kita ingin membuka apotek franchise di daerah dimana tingkat persaingan harga yang sangat tinggi. Sebagai contoh: Obat A yang telah ditetapkan dari pihak franchisor dengan harga B, ternyata dengan harga tersebut tidak kompetitif di daerah tersebut. Akibatnya akan membuat apotek kita terkenal mahal di masyarakat sekitar apotek kita. Omzet penjualan tidak sesuai yang diharapkan, sedangkan kita juga harus membayar royalti fee kepada pihak franchisor. Lalu, apa gunanya kita membeli franchise?
  • Pihak Investor hanya bersifat pasif.
Karena sistem manajemen yang telah terpusat, pihak investor / franchisee hanya bersikap pasif saja. Segala keputusan, manajemen, kebijakan-kebijakan lainnya telah diatur dari pusat. Kita hanya duduk diam dan mengamati dari luar, sedangkan resiko usaha tersebut tetap di tangan investor. Jikalau demikian adanya lebih baik kita putar modal usaha tersebut di bursa saham saja, setidaknya kita masih memiliki keputusan untuk membeli / menjual saham yang kita miliki.

Jadi bagi Anda yang ingin memulai usaha di bidang ini, silahkan Anda pilih bentuk apotek yang bagaimana yang ingin Anda buka. Ingin cepat berkembang? Cobalah dengan sistem franchise dengan memikirkan untung ruginya. Start dari awal? Coba saja dan juga pikirkan untung ruginya. Gak ada yang salah, sebab segala macam konsep memiliki resikonya masing-masing, keputusan tetap di tangan Anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar